BERWUDHULAH SEBELUM TIDUR ATAU HENDAK NAMBAH LAGI


Suami istri yang telah menunaikan hajat sanggama, apabila mereka hendak tidur maka disunnahkan mencuci kemaluannya terlebih dahulu lalu berwudhu. Begitu juga disunnahkan mencuci kemaluan dan berwudhu manakala mereka hendak menikmati hidangan atau makan setelah bersetubuh. Hal ini berdasarkan beberapa hadits Nabi saw.

•    Dari Aisyah r.ha., “Sesungguhnya apabila Rasulullah saw hendak makan atau tidur, sementara beliau sedang junub maka beliau mencuci farjinya dan berwudhu sebagaimana wudhu ketika hendak shalat.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

•    Dari Ibnu Umar, bahwa Umar bertanya kepada Nabi saw, “Wahai Rasulullah, apakah seseorang boleh tidur dalam keadaan junub?” Nabi saw menjawab, “Ya, boleh, apabila dia berwudhu.” Dalam riwayat lain, Nabi saw menjawab, “Ya, boleh, dan dia berwudhu dahulu jika mau.” (H.R. Bukhari, Muslim, dan Abu ‘Awanah)

•    Dari Ammar bin Yasir r.a., bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga hal yang tidak didekati malaikat: bangkai orang kafir, laki-laki yang melumuri dirinya dengan parfum wanita, dan orang junub sampai dia berwudhu.” (H.R. Abu Dawud)

Kesunnahan berwudhu ini juga diberlakukan bagi suami istri yang ingin berhubungan intim kembali alias “nambah”, berdasarkan sabda Nabi saw, “Apabila salah seorang kamu telah bersetubuh dengan istrinya lalu ingin mengulanginya lagi, hendaklah ia berwudhu.” (H.R. Muslim)

Hadits tersebut tidak menyebut dengan jelas siapa yang dianjurkan berwudhu. Tetapi, para ulama berpendapat bahwa yang disunnahkan berwudhu adalah mereka berdua, yakni suami dan istri yang ingin mengulangi sanggama mereka. Hal ini disesuaikan dengan hadits-hadits lain yang menyebut bahwa perkara sanggama adalah perbuatan berdua, maka wudhu pun menjadi kesunnahan bagi mereka berdua.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel