BIASANYA BEBAS KELUAR MASUK TAPI SAAT PABRIK PETASAN TERBAKAR KONDISI PABRIK TERKUNCI

Peristiwa pabrik petasan terbakar di komplek pergudangan 99, Jalan Raya Salembaran, Cengklong, Kosambi, Tangerang, meninggalkan kisah pilu.
Seperti dituturkan Widodo (58), salah satu keluarga korban selamat dari peristiwa mengenaskan itu.
Diketahui, pabrik petasan milik PT Panca Buana Cahaya Sukses itu memiliki total 103 pekerja dan karyawan, yang merupakan warga sekitar dan warga asal Jawa Barat.
Widodo sendiri memang tak bekerja di pabrik petasan nahas itu. Namun istrinya, Nurhayati, sudah bekerja di pabrik tersebut sejak dua bulan terakhir.
Ia mengungkapkan, sistem gaji di perusahaan milik Indra Liyono itu memakai sistem borongan.
“Awal kerja digaji Rp50 ribu per hari. Tapi lalu dikurangi jadi Rp40 ribu per hari,” ungkap Widodo seperti dikutip Tempo.co, Jumat (27/10).
Dalam peristiwa itu, istri Widodo adalah salah satu korban. Nurhayati mengalami luka bakar serius dan harus mendapat perawatan intensif.
Terpisah, Unci bin Hasan, salah seorang warga sekitar pabrik petasan itu mengungkap hal tak biasa di hari nahas tersebut.
Sebelumnya, kata dia, para karyawan dan pekerja bebas keluar-masuk pabrik.
Hal itu diketahuinya dari keponakannya, Sunna (16) yang juga menjadi salah satu pekerja di pabrik maut tersebut.
“Biasanya bebas keluar-masuk. Tapi gak tahu kok kemarin pintu gerbang digembok oleh pemiliknya,” beber Unci.
Unci menyebut, sebagaian besar pekerja dan karyawan pabrik itu memang warga setempat yang berdomisili tak jauh dari lokasi.
“Iya kebanyakan ibu-ibu dan perempuan yang kerja di situ,” katanya.
Seperti diketahui, pabrik petasan yang meledak itu adalah milik PT Panca Buana Cahaya Sukses dan memang bergerak di bidang pembuatan kembang api kawat dan baru dua bulan beroperasi.
Kebakaran pabrik itu baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 12.00 WIB siang setelah diketahui menyala sekira pukul 08.30 WIB pagi.
Dari peristiwa nahas ini, tercatat 47 nyawa melayang akibat terpanggang karena tak bisa menyelamatkan diri.
Sementara, 46 orang lainnya harus mendapat perawatan medis karena mengalami luka bakar kritis.
Semua korban, diketahui pekerja atau karyawan perusahan milik Indra Liyono tersebut.
Sampai saat ini, polisi juga masih belum mengetahui persis penyebab kejadian paling parah di dunia dalam sejarah insiden di pabrik petasan itu.
Total sudah ada tujuh saksi yang diperiksa. Dua orang saksi adalah warga sekitar yang melihat langsung kejadian mengenaskan itu.
Sedangkan saksi lainnya merupakan karyawan bagian pengepakan kembang api, kantor, bagian perizinan dan administrasi.
Sementara, pemilik pabrik nahas itu, Indra Liyono pun telah diperiksa di Mapolda Metro Jaya.
Ia diperiksa penyidik Direskrimum Polda Metro Jaya sebagai saksi atas perstiwa mengenaskan yang terjadi di perusahaan miliknya itu.
Pemeriksaan itu sendiri berkaitan dengan dokumen dan perizinan pabrik petasannya yang telah merengut 47 nyawa pekerja dan karyawannya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel