KENAPA REJRKI ANDA SERET??





Pernahkah kamu mengalami masa dimana kebutuhanmu selalu saja tidak terpenuhi. Padahal kamu telah bekerja hingga sangat letih. Semua upaya sudah kamu kerahkan. Demi menutupi kebocoran keran rezeki alias aliran pengeluaranmu setiap bulan. Kamu bahkan memutar otak untuk mencari kerja paruh waktu atau membuka usaha mandiri sebagai tambahan. Namun, masih saja tidak cukup.

Ada banyak hal yang manusia seringkali lupa tentang makna rezeki. Tidak perlu mengelak, bahkan diri kita sendiri pun masih menganggap jika rezeki itu sebatas ukuran duniawi, semata-mata nominal mata uang. Jika pendapatannya rendah, maka sedikit pula rezekinya, pun sebaliknya. Inilah sebab utama mengapa Allah masih menahan rezeki yang lainnya, ialah semata-mata karena gagalnya kita menyukuri hakikat rezeki yang sesungguhnya.

Masih diberikannya kita kepanjangan umur, kesempatan untuk memperbanyak bekal menuju Allah Subhanahu wa ta’ala. Di saat bersamaan ada banyak orang di muka bumi yang sudah dicukupkan, dipanggil pulang menghadap Sang Maha Kuasa lagi Adidaya. Masih dimudahkannya kita menghirup udara segar, di saat yang sama ada sebagian manusia yang harus menggunakan alat bantu pernafasan.

Masih diberikannya kita kesehatan, kelancaran dalam beraktivitas, sedangkan di belahan bumi lain ada orang-orang yang berjuang bertahan diri dari bencana alam, lahir dalam keadaan yang terbatas. Masih diberikannya kita kemudahan menjalankan apa pun ibadah yang diinginkan, sedang cukup banyak saudara muslim kita yang untuk menjalankan shalat saja harus bertaruh nyawa.

Ada tak terhitung rezeki yang selama ini luput kita syukuri. Padahal justeru yang seringkali dilupakan itu lebih utama dan tak ternilai harganya, dari sebatas jumlah mata uang. Maka sesuatu yang mendasar yang bisa menjadi salah satu sebab terhambatnya rezeki kita ialah kurangnya rasa syukur.

Bukankah Allah sudah mengingatkan dalam sebuah ayat yang seringkali kita dengar, meski terus gagal menjalankan. Dalam surah Ibrahim ayat 7, Allah Subhanahu wa wa’ala mengingatkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”


Selain itu, mungkin ada sebab-sebab lain yang menjadi penghalang turunnya rezeki, di antaranya:

1. Berharap dan memohon pada selain Allah

Sudah sebuah kewajiban, tauhidnya seorang muslim menjadi dasarnya untuk melakukan segala sesuatu dalam kehidupan dan keseharian. Tak terkecuali memohonkan sebuah pengharapan. Sebagai manusia yang terlahir dengan fitrah kedhaifan dan kefakiran ini, sudah sepatutnyalah kita berharap pada ke-Maha Pemurahnya Allah. Hanya Dialah  yang dengan segala kebaikan memberikan  apa-apa yang kita butuhkan, bahkan tanpa kita minta sebelumnya. Adakah kita meminta kepada-Nya jika detak jantung harus berdeyut setidaknya 60 kali per menit? Adakah kita memohon pada Allah agar tangan dan kaki bisa difungsikan sebagaimana biasanya? Tidak perlu khawatir, Allah sudah mencukupkan. Sebab itu, mengemislah hanya pada Allah, jangan sekali-kali, meski hanya terbesit di dalam hati untuk memohon kepada selain-Nya. Sebab bukan rezeki yang akan kita dapat, melainkan murka dan azab pedih baik di dunia maupun kelak di akhirat.

2. Tertutupi oleh dosa-dosa


Imam Al-Qurthuby menceritakan sebuah riwayat dari Ibnu Subaih, jika suatu ketika ada tiga orang yang datang pada Hasan Al-Bashri, ulama yang shaleh luar biasa. Orang pertama datang dan mengadukan jika di kampungnya sedang musim paceklik, dan karenanya ia memohon solusinya. Hasan Al-Bashri memberikannya saran, “ber-Istigfarlah engkau kepada Allah.” Orang kedua datang dengan keluhan keadaan miskiannya yang tidak kunjung membaik, Hasan Al-Bashri kembali menjawab, “ber-Istigfarlah engkau kepada Allah.” Datanglah kemudian orang ketiga yang mengadukan jika dirinya belum diikarunia anak, lagi-lagi Hasan Al-Bashri menjawab, “ber’istigfarlah engkau kepada Allah.”

Terheran-heran Rabi’in bin Subaih mendengar jawaban dari Hasan Al-Bashri kepada ketiga orang itu. Bertanyalah ia, “mengapa engkau perintahkan pada ketiganya untuk beristigfar?” Dengan bijaksananya sang ulama menjawab, “Aku tidak menjawab dari diriku sendiri, sebab Allah Subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan di dalam firman-Nya.”

Pada surah An-Nuh ayat 10-12, tertuang firman Allah berkenaan dengan penjelasan Hasan Al-Basri, “Maka, Aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampunan kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebuun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.'”

3. Belum bertawakal dengan sebenar-benarnya penyerahan

Tugas kita sebagai manusia, hamba yang tiada daya dan upaya hanyalah berikhtiar, berusaha sekuat sebisanya. Sehebat-hebatnya kita, tetap tak akan mampu mengambil alih Kuasa-Nya. Segala sesuatu sudah terekam jelas di Lauhul Mahfudz. Takdir yang tertulis menyangkut tiga hal pokok, maut, rezeki dan jodoh. Sekuat apa pun kita mencari, jika belum ditakdirkan menjadi milik, tetap tak pernah bisa. Allah sudah menentukan, sebagai hamba manusia hanya mengupayakan untuk mengambilnya dengan cara-cara yang ditentukan.

Serahkan saja semuanya pada Allah, bukankah Dia sebaik-baik Pengatur kehidupan? Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim, yang sanadnya disahihkan oleh Imam Tirmidzi dijelaskan, “Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang.”

Sudahkan kita berpasrah dengan sebenar-benar penyerahan? Atau masih ada sedikit ketakutan di dalam hati kita, kekhawatiran akan kehidupan hari depan yang datangnya dari syaitan? Mari terus memperbaiki hati agar mampu meyakini Kuasa Allah sepenuhnya, tanpa tapi, tanpa ragu.



 4. Belum Sempurna Memaknai Rezeki


Mungkin kita perlu memperbaharui definisi rezeki. Jika hari ini kita memaknai rezeki hanya sebatas harta, itu terlalu sempit. Coba tengok tetangga sebelah rumah. Adakah tetangga yang sangat baik, ramah, dan menyenangkan? Apakah itu bukan rezeki? Bayangkan jika tetangga itu diambil Tuhan dan digantikan dengan buronan, pembunuh, atau pengedar narkoba. Tentu saja keamanan dan ketenanganmu akan terenggut.

Ingat lagi setiap kejadian ketika dirimu nyaris celaka. Jika kejadian yang lebih buruk terjadi, berapa banyak kerugian yang kamu akan ratapi? Mulai dari hilangnya kebahagiaan, menurunnya kualitas kesehatan, cacat tubuh. Tapi Tuhan tidak membiarkannya terjadi. Terhindar dari masalah yang lebih besar. Apakah itu bukan rezeki?

Coba luaskan definisi rezeki. Maka kamu akan takjub. Ternyata selama ini terlalu banyak rezeki yang menyapamu dan keluarga. Tak terhitung jumlahnya. Masih mau bilang kurang? Maka bersiaplah semua kenikmatan yang kamu ingkari selama ini dicabut oleh Tuhan.

5. Tidak Tahu Cara Menikmati Rezeki


Ada fakta yang menggelitik. Masih ingatkah cerita bahwa orang-orang zaman dulu memiliki keturunan yang lebih dari 10 orang? Bahkan ada yang memiliki saudara sebanyak 16. Faktanya, semua anak terhidupi bahkan diwariskan tanah meskipun tidak begitu luas. Rezeki mereka selalu cukup. Orang zaman dulu hidup berdasar apa yang mereka butuhkan. Makanan yang cukup, kesehatan, dan keamanan. Jika ketiga hal ini terpenuhi, maka mereka telah merasa cukup.

Berbeda dengan zaman ini yang satu keluarga sudah diarahkan agar memiliki anak 2 orang saja. Tapi, banyak sekali keluhan bermunculan. Bahwa, segala kebutuhan belum tercukupi. Akhir bulan selalu menjadi masa menegangkan. Zaman semakin maju menyebabkan keinginan semakin banyak. Sibuk memikirkan apa yang belum kita punya. Akhirnya lupa semua nikmat yang telah ada di depan mata dan genggaman. Coba renungi kembali, semuanya akan cukup jika kita disiplin untuk memenuhi hanya kebutuhan dan menekan keinginan.

6. Tidak Pernah Berbagi


Kalau Kamu orang yang memang gemar berbagi, mustahil akan merasa kurang. Coba insafi kembali. Sudah berapa banyak yang kau tolong di sekitarmu? Jika alasannya adalah kamu memang kekurangan sehingga tak mampu berbagi, maka layakkan lah dirimu. Milikilah mental kaya. Bahkan hanya seteguk air pun bisa dibagi. Sisa makananmu pun bisa disedekahkan kepada semut, ayam, dan kucing. Melihat ke bawah akan selalu menyadarkanmu, betapa selama ini masih banyak nikmat yang Kau buang-buang. Darimananya yang kurang?

Berbagilah. Tuhan tidak akan membiarkan seorang hamba yang hatinya kaya, berlama-lama dalam kesusahan. Jika kamu terus saja merasa kurang dan bermental miskin, maka memang wajar jika rezekimu tidak kunjung dinaikkan Tuhan.

SEMOGA BERMANFAAT.

BACA SUMBER.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel