4 PERBUATAN BAIK YANG TIDAK DI SUKAI ALLAH S.W.T

Perbuatan baik, merujuk segala hal meliputi tindakan, ucapan, maupun perkara hati yang diniatkan dengan ikhlas semata-mata untuk meraih keridhoan Allah Subhanahu wa ta'ala. Pada perkara perbuatan baik yang diterima sebagai amal ibadah maka ada syarat tambahan berupa kesesuaian dengan tuntunan syariat.





Sahabat, kadang kala kita tertipu dengan amal kebaikan kita. Kita merasa telah melakukan kebaikan yang ternyata tidak bernilai sebagai kebaikan. Alangkah meruginya kita.

Namun, tentu saja perkara menilai sebuah perbuatan baik tidaklah bisa dinilai secara mutlak oleh kita sesama hamba. Kita hanya bisa mengatakan baik buruk berdasarkan perkara zahirnya saja. Adapun perkara batin menjadi rahasia orang yang melakukannya serta Tuhan Yang Maha Tahu.

Sedikitnya ada 4 perbuatan yang secara zahirnya terlihat sebagai perbuatan baik, namun ternyata tidak disukai oleh Allah Subhanahu Wa ta'ala

1. Perbuatan Baik yang Disertai dengan Niat Buruk

Perbuatan baik yang disertai niat buruk semisal riya dan ujub, akan menjadi perkara yang sia-sia di sisi Allah.

2. Perbuatan Baik yang Disertai Perbuatan Buruk

Perbuatan baik yang disertai perbuatan buruk, contohnya adalah bersedekah kemudian sibuk menyebut-nyebut perkara sedekahnya tadi. Kita dianjurkan untuk mengiringi keburukan dengan kebaikan dimana kebaikan itu akan menghapuskan perkara buruk yang kita lakukan. JIka kita melakukan hal sebaliknya, perbuatan baik yang diiringi dengan perbuatan buruk, maka tentu keburukan tersebut akan menghapus kebaikan yang telah kita lakukan.


3. Perbuatan Baik yang Dilakukan dengan Cara yang Salah

Perbuatan baik selanjutnya yang ternyata tidak disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah berbuatan baik yang dilakukan dengan cara yang salah. Misalnya orang yang sholat di waktu-waktu terlarang untuk sholat, atau orang yang berjihad dengan cara membunuh jiwa secara tidak haq.

4. Perbuatan yang Berakibat Buruk, Namun Sang Pelaku Merasa Telah Berbuat Baik

Perbuatan baik terakhir yang dikecam oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah melakukan hal-hal baik yang berakibat buruk, namun sang pelakunya merasa telah berbuat baik. Sehingga hal ini menjadi sebuah kesia-siaan yang tidak berarti apa-apa, bahkan bisa berujung celaka dunia akhirat. Misalnya saja orang yang mengutak-atik atau merubah-rubah syariat karena merasa kurang sempurna.

Sahabat, hendaknya kita mencukupkan diri dengan hal-hal yang telah diatur sang Pecipta, perbuatan abai atau sebaliknya, berlebih-lebihan, hanya akan berakhir sebagai suatu kesia-siaan lainnya. Mari berbenah, berlomba-lomba dalam kebaikan dengan tetap meluruskan niat dan mempelajari tuntunan syariat yang benar.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel