BUAH CIPLUKAN VIRAL NAIK DAUN HARGANYA MENCAPAI 500 RIBU PER KG



Buah ciplukan (Physalis Angulata L). FOTO/Flora.org.il

Siapa yang suka memakan buah ciplukan? Rasanya kecut-manis, berwarna hijau-kuning, dan dibungkus kulit tipis. Buah ini dulu dikenal sebagai tanaman liar, tak punya nilai jual, dan dianggap gulma. Namun kini, ia seakan naik kasta. 

Ciplukan atau Physalis angulata L. lazim tumbuh di kebun, tegalan, tepi jalan, semak, atau hutan. Buah ini juga dikenal dengan sebutan morel berry di Inggris, ceplukan di Jawa, cecendet di Sunda, keceplokan di Bali, dan leletokan di Minahasa. Meski dulu hanya dikenal sebagai mainan anak-anak, kini ciplukan digemari dan dijual dengan harga tinggi.

Ia hadir di toko-toko buah besar, pasar swalayan, dan dijual online. Satu kemasan isi 100 gram dihargai Rp30 ribu. Harga jual per kilogramnya berkisar Rp250-500 ribu. Akibat harganya yang melangit

Ciplukan mengandung banyak zat bermanfaat, di antaranya karbohidrat, lipid, mineral, dan vitamin. Masyarakat biasa memanfaatkan daunnya secara tradisional untuk melawan radang kandung kemih, limpa dan hati. Mandi dengan air rebusan tanaman ciplukan baik untuk untuk meredakan peradangan pada kulit serta rematik.

Ada juga yang menggunakannya dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi hepatitis, sakit tenggorokan, sakit perut, malaria, asma, ginjal, kandung kemih, penyakit kuning, asam urat, dan demam. Sementara, buahnya digunakan untuk mengobati bisul, luka, konstipasi, dan masalah pencernaan.

Di lembah Amazon, masyarakat menggunakan jus ciplukan sebagai obat penenang, depuratif (pembersih darah), anti-rematik, dan meredakan sakit telinga. Di Taiwan, ciplukan digunakan sebagai obat tradisional diabetes, hepatitis, asma, dan malaria. Penduduk pedesaan di Peru menggunakan daunnya untuk penyakit hati, malaria, dan hepatitis. Dan di Afrika Barat, mereka percaya ciplukan bisa menyembuhkan kanker.



Apakah semua khasiat itu bisa dijelaskan secara ilmiah? Menurut Mahalaksmi A.M. dan Ramesh Nivadani, berbagai studi dan penyelidikan menunjukkan bahwa ciplukan terutama terlibat dalam efek imunologis (sistem imunitas tubuh). Ia menjanjikan bagi gangguan-gangguan (penyakit) yang terkait dengan sistem kekebalan tubuh. Tentu tak semua penyakit yang disebutkan di atas termasuk ke dalam kategori ini. 

Penelitian Maya Fitria dkk juga menunjukkan hal yang menggembirakan. Peneliti mengeringkan ciplukan dan mengekstraksinya dengan etanol 70 persen. Hasilnya, ekstrak ciplukan tersebut memberikan dampak positif dan mampu menginduksi apoptosis (kematian) pada sel kanker payudara. Lagi-lagi, temuan ini juga tentu perlu penyelidikan lanjutan untuk bisa dikembangkan menjadi salah satu terapi kanker yang diakui.






Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel